meninggalkan kerusakan infrastruktur parah yang berujung pada kontaminasi sumber air dan hancurnya fasilitas toilet komunal. Di tengah kondisi tersebut, ancaman terbesar kedua setelah bencana itu sendiri adalah wabah penyakit menular, yang dipicu oleh krisis air bersih dan buruknya Penyediaan Sanitasi. Palang Merah Indonesia (PMI) memahami betul bahwa air bersih adalah kehidupan, dan oleh karena itu, Program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) menjadi prioritas utama. PMI bergerak cepat untuk mengaktifkan klaster WASH dalam 48 jam pertama pasca bencana, fokus pada tiga pilar: pengadaan air bersih, pembangunan fasilitas higienis, dan promosi kesehatan, dengan Penyediaan Sanitasi yang layak menjadi salah satu kunci pencegahan krisis kesehatan sekunder. Keberhasilan upaya ini sangat menentukan kualitas hidup dan pemulihan para penyintas.
Teknologi Filtrasi Cepat: Menjamin Kualitas Air Minum
Respons cepat PMI di sektor air bersih dimungkinkan berkat penggunaan teknologi portabel dan unit pengolahan air bergerak (Mobile Water Treatment Unit atau WTU). Unit ini mampu menyaring air baku dari sumber yang terkontaminasi (seperti air sungai berlumpur pasca banjir bandang atau sumur yang tercemar) menjadi air layak konsumsi. Proses yang digunakan mencakup kombinasi filtrasi, koagulasi, dan desinfeksi (klorinasi) untuk menghilangkan bakteri patogen, seperti E. coli.
Setiap unit WTU standar PMI mampu memproduksi rata-rata 8.000 hingga 10.000 liter air bersih per jam. Kapasitas ini vital untuk memenuhi standar minimum kebutuhan air minum (sekitar 3-5 liter per orang per hari) bagi ribuan pengungsi. Sebagai contoh spesifik, setelah terjadi gempa bumi di wilayah kepulauan pada 8 Juli 2026, Tim WASH PMI berhasil memproduksi dan mendistribusikan rata-rata 10.000 liter air bersih per hari di tiga titik pengungsian terpisah. Lebih lanjut, Tim teknis PMI wajib melakukan pengujian mutu air secara berkala—setiap hari pada Pukul 07.00 WIB—menggunakan alat uji cepat di sumber air dan titik distribusi untuk memastikan air bebas kuman dan memenuhi standar kualitas kesehatan.
Fasilitas Higienis dan Penyediaan Sanitasi yang Cepat
Kerusakan pada jamban dan sistem pembuangan limbah berpotensi mencemari sumber air yang tersisa. Oleh karena itu, PMI berupaya segera membangun fasilitas sanitasi yang layak. PMI menetapkan standar kemanusiaan ideal, yaitu satu jamban komunal digunakan maksimal oleh 20 orang, untuk mengurangi risiko penularan penyakit.
Dalam operasi tanggap darurat, Tim Logistik PMI mendirikan bilik toilet modular yang cepat dirakit (containerized latrine) atau fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) darurat. Di lokasi pengungsian utama di Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, pasca erupsi gunung berapi pada Desember 2021, PMI mendirikan 30 unit toilet sementara. Aspek kritis dari Penyediaan Sanitasi ini adalah manajemen limbah; PMI memastikan penampungan kotoran (septic tank) berjarak sekurang-kurangnya 30 meter dari sumur atau sumber air bawah tanah untuk menghindari kontaminasi. Selain itu, Penyediaan Sanitasi juga mencakup penyediaan tempat cuci tangan portabel di dekat dapur umum dan fasilitas toilet.
Promosi Kebersihan dan Distribusi Perlengkapan Kebersihan
Upaya PMI dilengkapi dengan program Promosi Kebersihan (Hygiene Promotion). Relawan PMI memberikan edukasi tatap muka kepada para penyintas—terutama anak-anak dan perempuan—mengenai pentingnya mencuci tangan dengan sabun dan praktik kebersihan lingkungan.
Untuk mendukung praktik ini, PMI mendistribusikan Hygiene Kits (paket kebersihan). Paket ini biasanya berisi sabun mandi, sabun cuci, sikat gigi, pasta gigi, dan pembalut wanita, yang merupakan kebutuhan esensial yang sering terabaikan pasca bencana. Distribusi Hygiene Kits dilakukan secara terpusat di Posko Induk Pengungsian setiap hari Senin, memastikan setiap keluarga mendapatkan perlengkapan untuk menjaga kebersihan diri. Laporan dari Petugas WASH PMI menunjukkan bahwa integrasi antara air bersih, Penyediaan Sanitasi, dan promosi kebersihan ini dapat mengurangi insiden kasus diare akut pada anak-anak di bawah usia lima tahun hingga 40% dalam minggu-minggu pertama operasi darurat, menjadikannya salah satu pilar terpenting dalam respons kemanusiaan.