Peran PMI dalam SAR: Bekerja di Bawah Reruntuhan Mencari Korban Hilang

Ketika gempa bumi melanda atau terjadi bencana struktural, reruntuhan bangunan menjadi kuburan masal dan sekaligus harapan terakhir. Di tengah tumpukan puing, peran tim Search and Rescue (SAR) menjadi sangat krusial. Palang Merah Indonesia (PMI) adalah salah satu aktor kemanusiaan yang aktif dalam operasi SAR, memainkan peran vital dalam pencarian dan evakuasi korban yang terjebak. Keahlian utama relawan PMI dalam tugas ini adalah melakukan pertolongan pertama di lokasi berbahaya dan memastikan proses evakuasi yang aman bagi korban dan penolong. Bekerja di Bawah Reruntuhan memerlukan bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga ketenangan, kesabaran, dan keterampilan teknis tingkat tinggi. Bekerja di Bawah Reruntuhan adalah balapan melawan waktu dan ancaman bahaya struktural. Bekerja di Bawah Reruntuhan seringkali menjadi penentu garis batas antara hidup dan mati korban yang terjebak.

👷 Keterampilan Urban SAR (USAR)

Tim SAR PMI, khususnya unit yang terlatih untuk bencana perkotaan (Urban SAR), menjalani pelatihan intensif yang diselenggarakan oleh Markas Besar PMI untuk menghadapi lingkungan yang sangat tidak stabil.

  • Protokol Entry dan Shoring: Sebelum masuk ke dalam ruang sempit di bawah reruntuhan, tim harus menilai risiko struktur sekunder. Relawan dilatih untuk melakukan shoring (penyanggaan darurat) menggunakan kayu atau alat hidrolik untuk mencegah keruntuhan susulan yang dapat membahayakan korban dan penolong.
  • Mendengarkan Kehidupan: Relawan menggunakan peralatan pendeteksi akustik canggih (life detector) yang dapat memperkuat suara kecil (seperti ketukan, gesekan, atau erangan) dari bawah tumpukan puing. Peralatan ini, seperti yang digunakan tim PMI saat operasi SAR di Cianjur pada November 2022, sangat penting untuk mengidentifikasi kantong-kantong udara di mana korban mungkin masih hidup.

🩸 Stabilisasi dan Evakuasi Vertikal

Ketika korban ditemukan, tantangan berikutnya adalah menstabilkan kondisi mereka di lokasi yang sempit sebelum dievakuasi.

  • Penanganan Medis di Tempat: Relawan PMI, yang memiliki keahlian Pertolongan Pertama, memberikan perawatan medis awal, seperti menghentikan pendarahan atau menstabilkan patah tulang, bahkan di ruang yang terbatas. Perawatan ini dilakukan untuk memastikan korban selamat dari pemindahan.
  • Teknik Rope Access: Untuk mengangkat korban dari ketinggian atau kedalaman, tim SAR PMI dilatih dalam teknik tali (rope access). Mengangkat korban harus dilakukan dengan sistem katrol (pulley system) yang terkontrol, memastikan tidak ada gerakan tiba-tiba yang dapat memperparah cedera tulang belakang atau fraktur.

🗣️ Koordinasi dan Keselamatan

Operasi SAR selalu merupakan upaya tim multi-sektor.

  • Kerja Sama Instansi: PMI bekerja erat di bawah komando Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan berkoordinasi dengan tim utama seperti Basarnas (Badan SAR Nasional) dan aparat kepolisian setempat. Komunikasi yang jelas menggunakan radio komunikasi adalah hal wajib untuk menghindari duplikasi upaya dan memastikan keselamatan tim.
  • Periode Kritis: Pada fase penyelamatan, waktu adalah segalanya. Sesuai prosedur SAR, tim harus berupaya maksimal mencari tanda-tanda kehidupan dalam 72 jam pertama, meskipun upaya pencarian dapat dilanjutkan selama seminggu penuh, atau sampai kepolisian setempat memutuskan operasi dihentikan.