Bencana alam tidak hanya meninggalkan kehancuran fisik, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat, terutama di lokasi pengungsian. Di tengah situasi yang sulit ini, ketersediaan air dan sanitasi yang layak menjadi sangat krusial. Palang Merah Indonesia (PMI), melalui para relawannya, memainkan peran vital dalam memastikan kebutuhan dasar ini terpenuhi. Upaya ini bukan sekadar tugas logistik, melainkan sebuah misi kemanusiaan untuk mencegah wabah penyakit dan menjaga martabat korban.
Salah satu tantangan terbesar setelah bencana adalah rusaknya infrastruktur, termasuk sumber air dan sanitasi. Sumur dan pipa air bisa terkontaminasi, sementara toilet dan fasilitas mandi hancur. Dalam kondisi seperti ini, risiko penyebaran penyakit menular seperti diare dan kolera meningkat tajam. PMI, dengan sigap, mendirikan posko air dan sanitasi darurat di lokasi pengungsian. Mereka membawa tangki air bersih, membangun toilet sementara, dan menyediakan fasilitas mencuci tangan. Sebagai contoh, di sebuah kamp pengungsian pasca-gempa di suatu daerah di Jawa Barat, pada 15 November 2025, tim relawan PMI berhasil mendirikan 10 unit toilet darurat dalam waktu 24 jam. Keterangan dari petugas Kepolisian yang mengamankan lokasi, Brigadir Eko, menegaskan bahwa kehadiran fasilitas ini sangat membantu dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Selain menyediakan fasilitas, peran relawan PMI juga mencakup edukasi. Mereka mengajarkan kepada para korban pentingnya menjaga kebersihan diri, seperti mencuci tangan dengan sabun setelah dari toilet dan sebelum makan. Pengetahuan dasar ini sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit. Di sebuah posko pengungsian banjir di suatu wilayah di Kalimantan, pada 20 November 2025, tim relawan PMI mengadakan sosialisasi rutin setiap pagi. “Satu hal yang paling sering kami tekankan adalah pentingnya mencuci tangan,” ujar seorang relawan, Bapak Budi. Ia menambahkan bahwa upaya ini sangat efektif dalam menekan angka kasus diare di kamp tersebut.
Aspek lain dari upaya air dan sanitasi adalah pendistribusian air bersih. Di lokasi yang sulit dijangkau, relawan PMI seringkali harus mengangkut air dengan jerigen atau mobil tangki. Mereka memastikan setiap keluarga mendapatkan jatah air yang cukup untuk minum, memasak, dan kebersihan pribadi. Dalam laporan dari Tim Respons Cepat Bencana PMI pada 25 November 2025, disebutkan bahwa setiap keluarga di posko pengungsian mendapatkan 5 liter air bersih per hari. Distribusi yang terorganisir ini memastikan tidak ada korban yang kekurangan pasokan air.
Pada akhirnya, air dan sanitasi adalah komponen yang tidak bisa ditawar dalam penanganan bencana. Peran relawan PMI dalam menyediakan fasilitas ini, memberikan edukasi, dan mendistribusikan air bersih adalah bukti nyata dari dedikasi mereka. Upaya ini tidak hanya menyelamatkan nyawa dari ancaman penyakit, tetapi juga memberikan harapan dan martabat bagi para korban di tengah-tengah situasi yang tidak pasti.