Fenomena alam yang mengejutkan terjadi di Lampung. Kawah Gunung Suoh meletus, mengakhiri tidur panjangnya selama 91 tahun. Letusan ini bukan letusan eksplosif yang menghasilkan abu vulkanik tinggi, melainkan letusan freatik yang mengeluarkan lumpur dan uap panas. Peristiwa ini segera memicu perhatian dari Badan Geologi dan masyarakat sekitar.
Tidur panjang 91 tahun Gunung Suoh berakhir pada Senin, 27 Mei 2024 dini hari. Kawah Gunung Suoh meletus secara tiba-tiba, ditandai dengan suara gemuruh dan semburan material dari dalam kawah. Meskipun tidak ada laporan korban jiwa, kejadian ini menimbulkan kekhawatiran akan aktivitas vulkanik selanjutnya.
Lokasi letusan berada di Kawah Nirwana, kawasan Geothermal Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemantauan intensif pasca Kawah Gunung Suoh meletus. Mereka memasang peralatan seismik untuk merekam aktivitas kegempaan.
Masyarakat di sekitar Gunung Suoh diimbau untuk tetap tenang namun waspada. Area di sekitar kawah Nirwana telah ditutup untuk sementara waktu demi keamanan. Pihak berwenang juga melarang aktivitas pendakian atau kunjungan ke kawah tersebut setelah Kawah Gunung Suoh meletus.
Letusan freatik umumnya terjadi karena interaksi antara air tanah atau air permukaan dengan panas di bawah tanah, menghasilkan uap bertekanan tinggi. Meskipun tidak seganas letusan magmatik, letusan freatik tetap berpotensi melontarkan material panas dan gas berbahaya.
Data seismik menunjukkan peningkatan aktivitas gempa vulkanik sebelum letusan terjadi. Hal ini mengindikasikan adanya pergerakan fluida di bawah permukaan. PVMBG akan terus menganalisis data untuk memprediksi potensi letusan susulan atau perubahan status gunung.
Pemerintah daerah bersama pihak terkait tengah menyiapkan langkah-langkah mitigasi bencana. Edukasi kepada masyarakat tentang bahaya gunung berapi dan jalur evakuasi menjadi prioritas. Kesiapsiagaan adalah kunci untuk meminimalkan risiko jika terjadi aktivitas vulkanik lebih lanjut.
Peristiwa Kawah Gunung Suoh ini menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di Cincin Api Pasifik. Gunung-gunung berapi yang “tertidur” bisa saja bangun kapan saja. Pemantauan rutin dan kesadaran bencana harus selalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di dekat gunung berapi.