Bencana kebakaran hutan dan lahan merupakan isu tahunan yang memberikan dampak luas, tidak hanya pada kerusakan ekosistem tetapi juga pada krisis kesehatan masyarakat. Strategi mitigasi karhutla yang efektif memerlukan keterlibatan aktif dari semua pihak, mengingat luasnya cakupan lahan yang harus diawasi. Di garis depan perjuangan ini, keberadaan tim lapangan yang tanggap dan terlatih menjadi kunci untuk meminimalisir dampak buruk yang ditimbulkan oleh titik api yang muncul secara sporadis. Pencegahan lebih awal melalui deteksi dini dan kesiapsiagaan masyarakat di sekitar kawasan rawan api terbukti jauh lebih efisien dibandingkan upaya pemadaman setelah api membesar dan meluas.
Dalam situasi darurat, sangat terlihat betapa pentingnya peran relawan PMI yang bekerja tanpa lelah di tengah kepungan asap. Relawan tidak hanya bertugas membantu dalam upaya pemadaman fisik bersama instansi terkait, tetapi juga memegang peranan krusial dalam aspek kemanusiaan lainnya. Mereka aktif dalam mendistribusikan masker standar medis kepada warga, mendirikan posko kesehatan, serta memberikan layanan oksigen bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak yang paling terdampak oleh penurunan kualitas udara. Kehadiran relawan di tengah masyarakat memberikan rasa aman dan bantuan praktis yang sangat dibutuhkan saat jarak pandang mulai terbatas dan napas mulai terasa sesak.
Upaya penanganan dampak bencana ini juga mencakup edukasi publik mengenai bahaya polutan udara jangka panjang. Paparan asap yang terus-menerus dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan memperburuk kondisi penderita asma. Relawan bergerak dari rumah ke rumah untuk mengingatkan warga agar mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menutup celah rumah agar asap tidak masuk secara masif. Penanganan krisis ini bersifat multidimensi, di mana aspek medis harus berjalan beriringan dengan aspek logistik dan komunikasi informasi yang akurat guna menghindari kepanikan massal di tengah situasi yang tidak menentu.
Fenomena kabut asap yang sering melanda wilayah Sumatera dan Kalimantan tidak mengenal batas wilayah administrasi, sehingga koordinasi antarprovinsi menjadi mutlak diperlukan. PMI sebagai organisasi kemanusiaan nasional memiliki jaringan yang luas untuk memobilisasi bantuan dari daerah yang tidak terdampak menuju daerah yang sedang mengalami krisis. Penempatan personel yang memiliki keahlian khusus dalam manajemen bencana memastikan bahwa bantuan yang diberikan tepat sasaran dan tepat guna. Selain itu, relawan juga dilatih untuk memberikan dukungan psikososial bagi warga yang merasa cemas atau kehilangan mata pencaharian akibat lahan perkebunannya ikut terbakar dalam musibah tersebut.