Provinsi Riau merupakan salah satu wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap kejadian kebakaran hutan dan lahan, terutama saat musim kemarau panjang melanda. Selain dampak polusi asap yang mengganggu pernapasan, risiko cedera fisik langsung bagi para petugas pemadam dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kejadian sangatlah nyata. Menyadari risiko tersebut, PMI Riau secara rutin menyelenggarakan program peningkatan kapasitas bagi relawan dan tenaga medis mengenai tata cara Penanganan Luka Bakar yang spesifik. Pelatihan medis intensif ini difokuskan pada penanganan kegawatdaruratan akibat efek panas yang sering terjadi di tengah upaya pengendalian karhutla, guna memastikan korban mendapatkan pertolongan pertama yang tepat sesuai standar klinis.
Cedera akibat paparan api atau uap panas di area kebakaran memiliki karakteristik yang berbeda dengan luka bakar biasa di lingkungan rumah tangga. Di medan terbuka seperti lahan gambut, suhu yang sangat tinggi disertai dengan terbatasnya akses air bersih membuat proses stabilisasi korban menjadi sangat menantang. Tim medis dilatih untuk melakukan penilaian cepat terhadap derajat kerusakan kulit serta memprioritaskan penanganan pada gangguan jalan napas yang sering menyertai korban di lokasi kebakaran. Penggunaan cairan infus yang tepat dan teknik pendinginan luka tanpa memicu hipotermia adalah materi krusial yang harus dikuasai oleh setiap relawan PMI di lapangan.
Selain penanganan medis secara langsung, pelatihan ini juga mencakup manajemen evakuasi di medan yang sulit. Sering kali, lokasi kebakaran berada jauh di dalam hutan yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau kendaraan khusus. Oleh karena itu, relawan dibekali kemampuan untuk melakukan transportasi pasien dengan peralatan darurat yang tersedia tanpa memperparah kondisi luka korban. Kecepatan dalam membawa korban dari zona panas ke zona aman medis adalah faktor penentu dalam mencegah terjadinya syok hipovolemik atau infeksi sistemik yang berbahaya bagi keselamatan jiwa.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak relawan pemadam dari masyarakat peduli api sering kali mengabaikan keselamatan diri sendiri demi memadamkan api. Melalui program PMI, mereka diberikan edukasi mengenai penggunaan alat pelindung diri yang memadai serta pengenalan tanda-tanda awal kelelahan panas atau heat stroke. Pencegahan cedera bagi para petugas di garis depan merupakan bagian dari strategi keselamatan kerja yang harus diterapkan secara ketat. Dengan pemahaman yang baik tentang batas kemampuan fisik dan prosedur pertolongan pertama, angka kecelakaan kerja selama musim kebakaran dapat ditekan seminimal mungkin.