Palang Merah Indonesia (PMI) memiliki peran vital dalam menghadapi bencana, salah satunya dengan membentuk relawan yang siap menjadi penolong pertama di lokasi kejadian. Strategi kesiapsiagaan PMI tidak hanya berfokus pada respons pasca-bencana, tetapi juga pada pembekalan keterampilan dasar yang mengubah masyarakat biasa menjadi garda terdepan dalam situasi darurat. Dengan pelatihan yang terstruktur dan berkelanjutan, PMI berhasil menciptakan “jaringan penolong” yang mampu memberikan bantuan cepat sebelum tim profesional tiba. Hal ini terbukti sangat efektif dalam meminimalisasi korban dan dampak buruk akibat bencana.
Strategi ini berawal dari program edukasi yang gencar dilakukan oleh PMI di berbagai daerah. Pada 21 April 2025, PMI Cabang Kota Yogyakarta menggelar pelatihan pertolongan pertama di Balai Desa Sidomulyo yang diikuti oleh 50 perwakilan warga. Pelatihan ini mencakup materi dasar seperti resusitasi jantung paru (RJP), penanganan luka, dan evakuasi korban. Menurut Ibu Santi, salah satu instruktur PMI, “Masyarakat adalah penolong pertama yang paling cepat tiba di lokasi kejadian. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk memiliki keterampilan dasar yang benar agar tidak memperburuk kondisi korban.” Pengetahuan dasar ini menjadi bekal yang sangat berharga bagi warga, memungkinkan mereka untuk bertindak cepat dan tepat saat terjadi kecelakaan atau bencana di lingkungan sekitar.
Selain pelatihan dasar, PMI juga mengintegrasikan relawan dengan sistem koordinasi yang efektif. Saat terjadi gempa bumi di Majene pada 15 Januari 2021, tim relawan PMI Majene segera mengaktifkan posko siaga dan berkoordinasi dengan petugas Kepolisian serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Koordinator Lapangan PMI, Bapak Budi, menjelaskan, “Kami segera mengirimkan tim penolong pertama ke area yang paling terdampak untuk melakukan evaluasi cepat dan memberikan pertolongan darurat. Informasi yang kami kumpulkan kemudian diteruskan ke BPBD untuk menentukan skala prioritas bantuan.” Sinergi ini memastikan bantuan yang disalurkan tepat sasaran dan terorganisir, menghindari kekacauan dan tumpang tindih tugas di lapangan.
Keberhasilan strategi kesiapsiagaan PMI juga didukung oleh ketersediaan peralatan medis dasar yang memadai. PMI secara rutin mendistribusikan kotak pertolongan pertama ke pos-pos relawan di berbagai wilayah rawan bencana. Kotak tersebut berisi perban, plester, obat antiseptik, dan alat-alat dasar lainnya yang sangat dibutuhkan untuk memberikan pertolongan pertama. Dengan adanya peralatan yang siap pakai, para relawan dapat bekerja lebih efektif dan memberikan perawatan awal yang optimal sebelum korban dipindahkan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Dengan demikian, peran penolong pertama yang dilatih oleh PMI menjadi sebuah pilar penting dalam sistem penanggulangan bencana, memberikan harapan dan bantuan nyata di saat yang paling dibutuhkan.