Fenomena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan sering kali menyelimuti wilayah Provinsi Riau, membawa dampak buruk bagi sistem pernapasan jutaan warga. Dalam menghadapi Tanggap Polusi udara yang ekstrem, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Riau bergerak cepat melalui aksi nyata di lapangan. Program distribusi alat pelindung diri menjadi prioritas utama saat indeks standar pencemar udara mulai memasuki kategori tidak sehat. Namun, aksi kali ini berbeda karena PMI tidak hanya membagikan penutup hidung biasa, melainkan memastikan bahwa masyarakat mendapatkan perlengkapan dengan kualitas yang teruji secara klinis untuk menyaring partikel berbahaya yang berukuran sangat kecil.
Distribusi ini menyasar kelompok yang paling rentan terpapar dampak polusi, seperti pengendara motor, pedagang kaki lima, siswa sekolah, hingga lansia. Masker medis yang dibagikan memiliki standar filtrasi yang mampu menahan polutan mikro dan bahan kimia berbahaya hasil pembakaran lahan. Hal ini sangat penting karena partikel asap sering kali mengandung karbon monoksida dan zat karsinogenik yang dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jika terhirup dalam jangka panjang. Dengan langkah tanggap ini, PMI Riau berupaya meminimalisir lonjakan pasien di rumah sakit dan puskesmas selama masa krisis udara berlangsung di wilayah tersebut.
Selain membagikan perlengkapan fisik, relawan PMI juga memberikan edukasi singkat kepada warga mengenai cara penggunaan masker yang benar agar tidak terjadi kebocoran udara di samping hidung dan mulut. Sosialisasi mengenai pentingnya menjaga hidrasi tubuh dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap menebal juga terus digencarkan melalui pengeras suara dan media sosial. PMI menyadari bahwa alat pelindung diri hanyalah benteng pertahanan sementara; yang paling utama adalah kesadaran masyarakat untuk melindungi kesehatan diri sendiri dan keluarga. Inisiatif di wilayah Riau ini mendapatkan apresiasi luas karena kehadirannya yang selalu sigap di titik-titik kemacetan dan pusat keramaian kota saat jarak pandang mulai terbatas.