Serangan hambatan pernapasan secara tiba-tiba dapat menimbulkan kepanikan luar biasa bagi penderita maupun orang-orang di sekitarnya. Sebagaimana kewaspadaan tinggi pada penanganan kecelakaan cedera leher, membantu penderita penyempitan saluran napas juga menuntut ketenangan. Mengetahui teknik bantuan darurat saat penderita sesak napas tidak membawa obat inhaler menjadi pengetahuan penyelamat yang sangat berharga.
Langkah awal yang paling krusial adalah mendudukkan penderita sesak napas dalam posisi tegak dan agak sedikit membungkuk ke depan. Hindari membaringkan penderita di lantai karena posisi terlentang dapat memperberat kerja otot pernapasan dalam menyerap pasokan udara. Longgarkan kerah baju, ikatan dasi, atau sabuk yang mengikat kencang pada area dada dan perut penderita.
Ciptakan suasana yang tenang di sekitar penderita dengan menjauhkan kerumunan orang agar pasokan sirkulasi udara segar dapat mengalir lancar. Pandulah penderita sesak napas untuk melakukan teknik pernapasan bibir terkatup secara perlahan dan teratur. Minta penderita menarik napas melalui hidung selama dua detik, lalu menghembuskannya pelan melalui mulut seperti posisi bersiul.
Irama pernapasan yang teratur membantu menenangkan refleks sistem saraf pusat serta melonggarkan ketegangan pada saluran pernapasan yang menyempit. Berikan minuman air hangat secara perlahan jika penderita berada dalam kondisi sadar penuh untuk mengencerkan lendir di tenggorokan. Dampingi terus penderita sambil mengamati perubahan warna bibir dan tingkat kesadaran fisiknya secara konstan.
Jika serangan sesak napas tidak kunjung mereda atau penderita mulai tampak kebiruan pada kuku dan bibirnya, segera panggil ambulans. Penanganan oksigenasi medis darurat sangat dibutuhkan untuk mencegah kegagalan fungsi paru-paru yang mengancam keselamatan jiwa. Kehadiran pendamping yang tenang memberikan dorongan psikologis yang sangat membantu pemulihan korban.