Narasi mengenai Perjuangan Tim Evakuasi di lapangan mencakup pemindahan warga dari area dengan indeks standar pencemaran udara (ISPU) yang masuk kategori berbahaya ke tempat-tempat yang lebih aman. Evakuasi ini sering kali diprioritaskan bagi bayi, ibu hamil, dan penderita asma akut yang tidak mungkin bertahan di rumah tanpa peralatan oksigen yang memadai. Tim PMI harus bekerja cepat di bawah jarak pandang yang sangat terbatas, sering kali kurang dari 50 meter, yang membuat mobilitas kendaraan ambulans menjadi sangat berisiko.
Ada sebuah Fakta yang jarang tersorot mengenai kondisi di Tengah Kebakaran Hutan tersebut. Panas yang dihasilkan oleh lahan gambut yang terbakar tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga mengeluarkan gas karbon monoksida yang sangat tinggi. Para petugas evakuasi sendiri sering kali harus bertaruh dengan kesehatan mereka sendiri. Meskipun menggunakan peralatan perlindungan diri, paparan asap yang terus-menerus selama berhari-hari menyebabkan kelelahan fisik dan sesak napas. Namun, mereka tetap bertahan karena tahu bahwa di luar sana banyak warga yang tidak memiliki alat perlindungan sama sekali dan sangat bergantung pada bantuan tim medis.
Selain evakuasi fisik, PMI di Riau juga mendirikan rumah-rumah singgah oksigen. Di tempat-tempat ini, warga bisa mendapatkan terapi oksigen murni secara gratis untuk membersihkan paru-paru mereka dari partikel debu halus (PM2.5). Perjuangan Tim Evakuasi ini juga melibatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya jangka panjang dari kabut asap. Sering kali, tim harus masuk ke pelosok desa untuk membagikan cairan pembersih mata dan vitamin agar daya tahan tubuh masyarakat tetap terjaga di tengah kualitas udara yang sangat buruk. Hebatnya, banyak dari relawan ini adalah warga lokal yang juga merupakan korban asap, namun tetap memilih untuk menolong orang lain terlebih dahulu.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah luasnya wilayah kebakaran yang sering kali tidak terjangkau oleh jalur darat yang baik. Tim evakuasi terkadang harus menggunakan perahu melalui sungai-sungai yang tertutup asap tebal demi menjemput warga di permukiman terpencil. Koordinasi dengan tim pemadam kebakaran juga sangat krusial agar tim evakuasi tidak terjebak dalam kepungan api yang merembet cepat akibat tiupan angin kencang. Dedikasi tanpa henti ini menunjukkan bahwa misi kemanusiaan adalah sebuah kerja kolektif yang membutuhkan keberanian luar biasa dan ketahanan mental yang stabil.