Solusi kabut asap melalui teknologi filtrasi mandiri ini diperkenalkan melalui serangkaian workshop yang diselenggarakan oleh PMI Riau di berbagai komunitas warga. Inti dari alat ini adalah penggunaan filter HEPA (High-Efficiency Particulate Air) yang dipadukan dengan kipas angin kotak sederhana. Workshop ini mengajarkan warga cara merakit alat tersebut dengan biaya yang jauh lebih murah namun memiliki performa yang mampu menyaring partikel PM2.5 secara signifikan. Dengan pengetahuan ini, setiap rumah tangga diharapkan dapat menciptakan “ruang aman” di dalam rumah masing-masing, sehingga risiko penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat diminimalisir saat kualitas udara di luar rumah berada pada level berbahaya.
Ancaman polusi udara tahunan akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera mendorong lahirnya berbagai inisiatif kreatif dari organisasi kemanusiaan, terutama dalam memfokuskan penanganan dampak kesehatan yang dialami oleh kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Fokus pada penanganan dampak kesehatan akibat polusi ini memerlukan alat bantu yang terjangkau namun memiliki efektivitas tinggi dalam menyaring partikel berbahaya di dalam ruangan. Riau, sebagai daerah yang seringkali terdampak paparan asap pekat, kini mulai memopulerkan pembuatan alat filtrasi udara secara mandiri sebagai langkah mitigasi yang praktis dan efisien bagi keluarga yang belum memiliki kemampuan membeli pemurni udara (air purifier) pabrikan.
Pembuatan alat filtrasi udara mandiri ini sangat relevan mengingat durasi bencana asap yang terkadang berlangsung selama berminggu-minggu. Filter HEPA dipilih karena kemampuannya menyaring 99,97% partikel berukuran 0,3 mikron, termasuk partikel debu halus dan asap sisa pembakaran lahan. Dalam workshop tersebut, warga juga dibekali pengetahuan mengenai kapan waktu yang tepat untuk mengganti filter dan bagaimana memposisikan alat tersebut di dalam ruangan agar sirkulasi udara bersih dapat merata. Edukasi ini memberikan rasa mandiri kepada warga, sehingga mereka tidak hanya bergantung sepenuhnya pada pembagian masker atau bantuan pemerintah saat krisis asap terjadi.
Inisiatif HEPA mandiri ini juga merambah ke fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas yang belum memiliki sistem pendingin udara tersentralisasi. Dengan memasang alat filtrasi buatan sendiri ini, aktivitas belajar mengajar di sekolah dapat tetap berlangsung dengan risiko paparan asap yang lebih rendah. PMI Riau juga mengajak sektor swasta untuk berkontribusi melalui penyediaan stok filter HEPA dalam jumlah besar agar harga komponen utama tersebut tetap terjangkau oleh masyarakat luas. Gerakan ini membuktikan bahwa inovasi sederhana yang berbasis pada ilmu pengetahuan praktis dapat menjadi solusi yang sangat berdampak bagi kesehatan masyarakat di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.